Orang-orang yang sedang dalam masalah atau sedang
tertimpa malapetaka cenderung untuk menyalahkan dirinya sendiri.
Pada suatu hari ada seorang yang masih dalam
percobaan untuk promosi sebagai seorang manajer pada sebuah perusahaan swasta,
tetapi setelah beberapa bulan penilaian ternyata dia tidak berhasil dalam
memajukan cabang yang dipimpinnya, lalu dia berkata “kalau Saya bisa lebih
konsentrasi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab, kalau saya lebih aktif
dalam pergaulan, kalau saja saya lebih bisa menghadapi orang lain dan lebih
berani dalam mengambil keputusan tentunya saya akan diangkat menjadi manajer
penuh, tidak seperti sekarang, kembali menjadi karyawan”.
Anehnya kita mendengar kata-kata orang tersebut
sering mengangkap dia memang pantas menerima bencana. Sebagai orang yang tidak
berada dalam posisi si malang, tidak sangat menolong kalau kalau kita minta
agar orang yang sedih tersebut untuk tidak menangis dan mengeluh. Mereka
memerlukan orang yang memperbolehkan mereka untuk marah, menangis, berteriak. Bukan
orang yang menganjurkan, “Sudah-sudah jangan sedih, mungkin itu bukan
bagianmu.” Atau yang mengecilkan penderitaan dengan berkata, “sudahlah jangan
terlalu dipikirkan, Tuhan masih mencintaimu, sehingga kamu dipilih untuk
memikul beban ini”. Sungguh itu bisa membuat orang yang sedang sedih itu
semakin tertekan dan terpojok.
Bukan itu yang mereka butuhkan. Jadi apa yang bisa
kita lakukan untuk berbagi penderitaan dengan mereka?. Kita bisa datang untuk mendengarkan
mereka mengeluarkan isi hatinya sambil menahan diri untuk tidak memberikan
nasihat untuk sementara, berusaha menemani dan ikhlas memberikan ruang untuk
menerima dan berbagi pengalaman pahit kehidupan yang sudah terjadi. Sehingga
kesan yang didapat mengenai masalah itu akan terasa lebih ringan dengan adanya
teman hidup disamping kita.
Terlebih dulu jadikanlah
diri kita sebagai “teman curhat”, daripada kita sebagai “mentor kehidupan”.
Silahkan tambahkan komentar Anda, Semoga dapat sama-sama membangun. Terima kasih.
EmoticonEmoticon